BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Pendidikan merupakan hal yang sangat
peting dalam membangun suatu bangsa,didalam pendidikan terdapat beberapa
komponen seperti Guru, Siswa dan Sarana
Prasarana. Salah satu tugas guru adalah
mengajar di kelas, dalam kegiatan mengajarnya guru tidak hanya dituntut
untuk dapat menyampaikan materi dengan baik tetapi juga diwajibkan untuk
memahami bagaimana cara memberikan pertanyaan yang baik kepada para siswanya.
Keterampilan
bertanya merupakan bagian yang sangat penting dalam proses pembelajaran.
Keterampilan bertanya bahkan merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki
oleh seorang guru dan calon guru. Dalam proses belajar mengajar, pertanyaan
yang diajukan oleh guru bertujuan agar siswa belajar, yaitu memperoleh
pengetahuan dan meningkatkan kemampuan berpikir. Untuk itulah didalam makalah
ini kami akan menjelaskan tentang bagaimana keterampilan dalam bertanya yang
baik .
1.2
Rumusan Masalah
1.2.1
Apakah Yang
Dimaksud Keterampilan Bertanya ?
1.2.2
Bagaimanakah
Penggunaan Keterampilan Bertanya Dasar ?
1.2.3
Bagaimanakah
Komponen-Komponen Bertanya Lanjut ?
1.2.4
Bagaimanakah
Keterampilan Bertanya Untuk Mengumpulkan Data ?
1.2.5
Bagaimanakah
Keterampilan Memperoleh dan Menganalisis Informasi ?
1.3
Tujuan
Makalah
ini disusun dengan tujuan :
1.3.1
Memahami
Pengertian Keterampilan Bertanya
1.3.2
Memahami
Penggunaan Keterampilan Bertanya Dasar
1.3.3
Memahami
Komponen-Komponen Bertanya Lanjut
1.3.4
Memahami
Keterampilan Bertanya Untuk Mengumpulkan Data
1.3.5
Memahami
Keterampilan Memperoleh dan Menganalisis Informasi
1.3.6
1.4
Manfaat Penulisan
Penyusunan
makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi guru, siswa dan mahasiswa.
Bagi
guru, makalah ini dapat memberikan informasi atau pemahaman tentang metode yang efektif untuk digunakan dalam
kegiatan belajar mengajar di kelas.
Bagi
siswa, makalah ini dapat digunakan untuk menyesuaikan dalam setiap metode
pembelajaran di kelas.
Bagi
mahasiswa, makalah ini memberikan informasi tentang keterampilan bertanya dasar
sehingga nantinya mahasiswa yang akan menjadi guru dapat memahami tentang
metode yang efektif untuk kegiatan belajar mengajar di kelas.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Keterampilan Bertanya
Secara etimologis keterampilan bertanya terdiri dari
dua suku kata yaitu “terampil dan tanya”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata “terampil”
memiliki makna cakap dalam penyelesaian tugas ataupun mampu dan cekatan
sedangkan kata “tanya” berarti permintaan keterangan. Dengan demikian,
keterampilan bertanya secara sederhana dapat diartikan dengan kecakapan atau
kemampuan seseorang dalam meminta keterangan atau penjelasan dari orang lain.
Menurut
Marno (2008 : 115) Keterampilan Bertanya adalah suatu pengajaran itu sendiri,
sebab pada umumnya guru dalam pengajarannya selalu melibatkan/menggunakan tanya
jawab.
Menurut
Brown bertanya adalah setiap pernyataan yang mengkaji atau menciptakan ilmu
pada diri peserta didik.
2.2 Penggunaan Keterampilan Bertanya Dasar
Ada beberapa tujuan yang ingin
dicapai agar seorang guru dapat mengajukan pertanyaan dengan menggunakan
keterampilan bertanya secara tepat. Tujuan tersebut antara lain : membangkitkan
minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu pokok bahasan yang dipelajari,
memusatkan perhatian siswa terhadap suatu pokok bahasan atau konsep,
mendiagnosis kesulitan-kesulitan khusus yang menghambat siswa belajar,
mengembangkan cara belajar siswa aktif, memberikan kesempatan kepada siswa
untuk memaksimalkan informasi, memperbaiki salah pengertian dan salah pemahaman
konsep oleh siswa, mendorong siswa mengemukakan pendapatnya dalam diskusi,
menguji dan mengukur hasil belajar siswa (Bolla dan Pah; 1984).
2.2.1 Hal-hal
yang perlu diperhatikan
Ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam keterampilan bertanya dasar antara
lain seorang guru harus memperhatikan ketepatan dalam pemakaian bahasa sehingga
peserta didik dapat memahami konsep secara logis, serta frekuensi pertanyaan
yang tidak terlalu tinggi untuk jarak perluwaktu sebentar. Penggunaan dan
pemilihan kata sebaiknya seefisien
mungkin karena pertanyaan yang panjang dan melantur akan sulit untuk ditangkap
oleh siswa dan biasanya tidak jelas apa yang menjadi tugas siswa secara khusus.
Kadang-kadang dalam menyusun pertanyaan seorang guru harus bisa memberikan kata
kunci dari pertanyaan tersebut untuk mengarahkan jawaban siswa. Dengan demikian
pernyataan dapat disusun sedemikan rupa sehingga tugas siswa menjadi lebih
jelas dan dapat memilih kata-kata dan
menyusun kalimat untuk menjawab pertanyaan dari guru.
Guru
menginformasikan ruang lingkup atau acuan permasalahan yang akan didiskusikan.
Selama pelajaran berlangsung diusahakan agar siswa menerima informasi yang
relevan. Hal tersebut juga mendukung hidupnya diskusi dan interaksi diantara
para siswa dan juga dengan guru dan diskusi tetap relevan dengan tujuan yang
ditetapkan pada saat pelajaran dimulai.
Ada
dua aspek yang dapat diambil dari komponen memfokuskan persoalan ini. Yang
pertama adalah ruang lingkup pertanyaan yang luas atau terbuka contohnya :
“Apakah pengaruh PBB terhadap Indonesia?” pertanyaan tersebut akan memerlukan
jawaban yang luas. Akan lain halnya jika pertanyaan tersebut diubah menjadi : “
Apakah pengaruh PBB terhadap politik luar negeri Indonesia?” Pertanyaan
tersebut lebih memfokus kepersoalan khusus sehingga memungkinkan siswa untuk
dapat menjawab secara lebih terarah.
Aspek
kedua yaitu memfokuskan terhadap jumlah tugas yang harus dilakukan oleh siswa
sebagai akibat dari pertanyaan guru. Contoh pertanyaan yang aneka fokus : “
Apakah pengaruh devaluasi terhadap penghasilan petani, pedagang dan pegawai
negeri?” Pertanyaan tersebut akan membuat siswa berpikir secara terus menerus
dalam waktu yang bersamaan sehingga kurang baik karena proses belajar menjadi
berkurang.
Jika
siswa gagal menjawab pertanyaan atau jawabannya kurang sempurna atas pertanyaan
yang diajukan guru, maka guru perlu melakukan hal-hal sebagai berikut :
1)
Menyusun kembali
kata-kata yang ada didalam pertanyaan semula dalam versi yang paralel. Keggalan
siswa dalam menjawab pertanyaan umumnya disebabkan karena kegagalan dalam
memahami kata-kata delam pertanyaan yang sulit dimengerti.
2)
Menggunakan
pertanyaan yang sederhana yang relevan dengan pertanyaan pertama misalnya
dengan menunjuk atau menggunakan pengalaman siswa, atau pengetahuan yang ada
untuk membantu siswa menafsirkan pertanyaan.
3)
Mereview
informasi yang diberikn sebelumnya adakalanya akan membantu siswa dalam
menjawab pertanyaan. Kegagalan siswa dalam menjawab dapat dipakai sebagai
petunjuk bahwa materi pelajaran yang telah diberikan memiliki tingkat kesulitan
yang agak tinggi.
Pemberian tenggang waktu untuk berpikir
setelah guru bertanya merupakan faktor yang sangat penting. Memberikan tenggang
waktu kepada siswa untuk menjawab pertanyaan minimal lima detik setelah
pertanyaan diajukan dan menunggu lima detik setelah siswa menjawab akan
menghasilkan beberapa keuntungan, diantaranya siswa yang merespon terhadap
jawaban mengeluarkan pendapat bertambah banyak, siswa yang bertanya juga
semakin bertambah. Dan dari segi guru, dengan adanya pemberian waktu ini adanya
kecenderungan guru untuk menambah variasi dalam bertanya (Rowe: 1974).
Dalam bertanya seorang guru harus
memberikan giliran diantara para siswa, jika pertanyaan yang diajukan guru
tidak dijawab oleh seorang siswa, maka pertanyaan itu sebaiknya diajukan kepada
siswa lainnya. Dengan adanya pemberian giliran untuk menjawab pertanyaan yang
sama kepada siswa lainnya akan mengurangi pembicaraan guru yang tidak perlu,
serta dapat meningkatkan respon secara langsung dari siswa kepada temannya.
Pembagian giliran ini juga dapat membagi dan mendistribusikan perhatian guru
kepada seluruh warga kelas agar sebanyak mungkin siswa dapat berpartisipasi.
2.2.2
Kebiasaan-kebiasaan yang perlu dihindari
Didalam mengajukan pertanyaan ada beberapa hal
yang perlu dihindari. Kebiasaan kebiasaan tersebut antara lain :
a)
Mengulangi
pertanyaan sendiri. Kebiasaan ini akan menyebabkan siswa tidak memperhatikan
pertanyaan guru karena mengharapkan guru mengulang pertanyaannya.
b)
Mengulangi
jawaban siswa. Dari sisi hal ini dapat memberi penguatan bagi siswa yang
menjawab pertanyaan, akan tetapi dari sisi lain apabila mengulangi jawaban
siswa ini menjadi kebiasaan guru, akan menimbulkan hal yang tidak dikehendaki,
diantaranya waktu akan terbuang untuk mengulang jawaban yang tidak perlu.
c)
Menjawab
pertanyaan sendiri. Kebiasaan ini akan mengakibatkan siswa frustasi atau
mungkin mereka tidak mengikuti pelajaran dengan baik.
d)
Pertanyaan yang
memancing jawaban serentak.
e)
Pertanyaan
ganda. Seorang guru hendaknya menghindari pertanyaan yang menyebabkan jawaban
ganda, karena pertanyaan ganda ini dapat mematahkan semangat siswa yang hanya
sanggup menjawab satu dari semua tugas itu dan akan menyebabkan partisipasi
siswa berkurang.
f)
Menunjuk siapa
yang harus menjawab sebelum mengajukan pertanyaan. Harusnya pertanyaan itu
disampaikan terlebih dahulu kepada seluruh siswa, kemudian setelah menunggu
sejenak barulah menentukan siapa yang harus menjawab.
2.3 Komponen-komponen bertanya lanjut
Sebelum memahami keterampilan bertanya
lanjut hendaknya seorang guru memahami keterampilan bertanya dasar terlebih
dahulu karena komponen-komponen keterampilan bertanya dasar masih digunakan
dalam penerapan keterampilan bertanya lanjut. Adapun komponen-komponen bertanya
lanjut adalah : pengubahan tuntutan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan,
pengaturan urutan pertanyaan, penggunaan pertanyaan pelacak dan peningkatan
terjadinya interaksi.
a)
Pengubahan tuntutan tingkat kognitif dalam menjawab
pertanyaan. Pengubahan ini artinya agar seorang guru dalam mengajukan
pertanyaan dapat berusaha mengubah tingkat kognitif siswa dalam menjawab suatu
pertanyaan dari tingkat yang rendah ke tingkat kognitif yang lebih tinggi. Seperti:
tingkat pemahaman, penerapan, analisis, sintesis maupun tingkat evaluasi
b)
Pengaturan urutan pertanyaan. Artinya alam memberikan
urutan pertanyaan seorang guru harus memberikannya secara terurut, misalnya :
pertama seorang guru mengajukan pertanyaan pemahaman penerapan, analisis,
sintesis dan yang terakhir lanjut ke pertanyaan evaluasi. Dan seorang guru
hendaknya memberikan waktu yang cukup untuk bisa menjawab pertanyaan yang
diajukan.
c)
Penggunaan
pertanyaan pelacak. Ada tujuh teknik pertanyaan pelacak yang
dapat digunakan oleh seorang guru.
-
Yang pertama yaitu klarifikasi, jika ada
salah satu siswa menjawab pertanyaan guru dengan kalimat yang kurang tepat, maka
guru memberikan pertanyaan pelacak yang meminta siswa untuk menjelaskan atau
dengan kata-kata lain sehingga jawaban siswa menjadi lebih baik atau menyuruh
siswa untuk mengulang jawabannya dengan kata yang lebih lugas. Contoh
pertanyaan : Dapatkah kamu menjelaskan sekali lagi apa yang kamu maksud?
-
Yang kedua yaitu
meminta siswa memberikan alasan, Guru dapat meminta
siswa untuk memberikan bukti yang menunjang kebenaran suatu pandangan yang
diberikan dalam menjawab pertanyaan. Contoh pertanyaan : Mengapa kamu
mengatakan demikian ?
-
Yang ketiga
yaitu meminta kesepakatan tanggapan, Guru memberikan
kesempatan kepada siswa-siswa lainnya untuk menyatakan persetujuan atau
penolakan siswa serta memberikan alasan-alasannya terhadap suatu pandangan yang
diungkapkan oleh seorang siswa, dengan maksud agar diperoleh pandangan yang
benar dan dapat diterima oleh semua pihak. Contoh pertanyaan : Siapa setuju
dengan jawaban itu? Mengapa Siapa setuju dengan jawaban itu? Mengapa?
-
Yang keempat
yaitu meminta ketepatan jawaban, Jika jawaban siswa
belum tepat guru dapat meminta siswa untuk meninjau kembali jawaban itu agar
diperoleh jawaban yang tepat atau guru dapat menggunakan metode pemberian
pertanyaan dengan sistem bergilir.
-
Yang kelima
yaitu meminta jawaban yang lebih relevan, Mengajukan pertanyaan
yang memungkinkan siswa menilai kembali jawabannya atau mengemukakan kembali jawaban
yang relevan.
-
Yang keenam yaitu meminta contoh, Jika
ada jawaban dari siswa yang kurang jelas maka guru dapat meminta siswa untuk memberikan
ilustrasi atau contoh yang konkret.Contoh pertanyaan : Dapatkah kamu memberikan
contoh dari jawaban yang telah kamu berikan ?
-
Yang Ketujuh
yaitu meminta jawaban yang lebih kompleks, Guru memberikan
penjelasan agar jawaban siswa menjadi lebih kompleks dan mampu menemukan
ide-ide penting lainnya. Contoh pertanyaan : dapatkah kamu memberikan
penjelasan yang lebih luas lagi dari ide yang dikatakan tadi ?
d)
Peningkatan terjadinya interaksi. Ada
dua cara guru untuk menghilangkan peranannya sebagai penanya sentral
-
Yang pertama yaitu guru mencegah
pertanyaan dijawab langsung oleh seorang siswa tetapi siswa diberi kesempatan
singkat untuk mendiskusikan jawabannya untuk didiskusikan.
-
Yang kedua yaitu jika siswa mengajukan
pertanyaan, guru tidak segera menjawab pertanyaan dari siswa, tetapi
melontarkan kembali pertanyaan tersebut kepada siswa untuk didiskusikan.
2.4 Keterampilan
Bertanya Untuk Mengumpulkan Data
Keterampilan bertanya sangat diperlukan dalam
mengumpulkan data antara lain melakukan wawancara dan menyusun angket. Berikut
ini adalah pemahaman dari teknik pengumpulan data dengan wawancara dan angket.
a)
Wawancara atau
interview adalah teknik pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara
langsung oleh pewawancara terhadap responden atau narasumber.
b)
Mengumpulkan
data menggunakan angket adalah teknik pengumpulan data dengan menyerahkan atau
mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi oleh responden. Responden adalah
orang yang memberikan tanggapan atau orang yang menjawab. Untuk menggunakan
teknik ini responden harus dari kalangan terpelajar karena harus bisa membaca
dan menulis.
c)
Studi
dokumentasi merupakan teknik pengumpulan
data yang tidak langsung ditujukan kepada subjek penelitian. Dokumen dapat
dibedakan menjadi dokumen primer dan dokumen sekunder. Dokumen primer adalah
dokumen yang ditulis oleh orang yang langsung mengalami suatu peristiwa. Dokumen
dapat dibedakan menjadi dokumen primer dan dokumen sekunder. Dokumen primer
adalah dokumen yang ditulis oleh orang yang langsung mengalami suatu peristiwa.
Sedangkan dokumen sekunder adalah jika suatu peristiwa dilaporkan kepada orang
lain yang selanjutnya ditulis oleh orang yang menerima informasi tersebut.
2.5 Keterampilan
Memperoleh dan Menganalisis Informasi
Kunci utama
memperoleh informasi adalah melalui kemampuan berbahasa yang baik. Keterampilan
berbahasa lainnya adalah mendengar atau menyimak informasi.
Keterampilan
bahasa yang paling menyeluruh adalah pada saat kita harus mengungkapkan
pikiran, hasil kerja, laporan kejadian, pekerjaan dan lain sebagainya melalui
bentuk laporan lisan maupun laporan tulisan.
Pada umumnya orang suka membaca jika materi yang dibaca itu menarik minat
dan perhatiannya. Akan berbeda halnya jika membaca untuk keperluan suatu tugas
atau analisis informasi untuk kepentingan riset. Membaca untuk kepentingan
pencarian informasi yang objektif untuk kepentingan ilmiah lazimnya memerlukan
sumber bahan bacaan yang relative banyak. Materi yang harus dibaca
tersebut akan dicarikan keterkaitan, hubungan, pengaruh, perbandingan dan lain
sebagainya antara suatu hal dengan hal-hal lainnya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian pembahasan diatas, dapat disimpulkan bahwa kita sebagai
calon guru sudah sepatutnya memiliki keterampilan bertanya yang optimal. Karena
diantara beberapa profesi yang ada gurulah yang
paling sering menggunakan pertanyaan dalam tugas mengajarnya setiap hari.
Melalui penggunaan pertanyaan yang
diberikan oleh guru dalam kegiatan
belajar mengajarnya juga meningkatkan cara berpikir siswa, mempengaruhi secara
positif dalam pencapaian hasil belajar siswa, membangun rasa percaya diri dan kemampuan
diri siswa dalam proses belajar.
3.2 Saran
Dari uraian diatas, saran yang dapat penulis
sampaikan bahwa sebagai calon guru kita tidak hanya belajar bagaimana cara bertanya yang baik dan benar. Tetapi juga harus
memahami bagaimana pengaruh setiap bentuk dan jenis pertanyaan terhadap proses
belajar siswa di dalam kelas. Kita juga diharapkan bisa untuk membimbing siswa
agar bisa bertanya dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah yang berlaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar