BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Psikologi adalah sebuah bidang ilmu
pengetahuan yang mempelajari mengenai perilaku dan fungsi mental manusia secara
ilmiah. Sedangkan pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan dan
kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari generasi satu ke
generasi-generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan atau penelitian.
Jadi psikologi pendidikan merupakan suatu bidang ilmu pengetahuan yang
mempelajari tentang perilaku dan mental manusia secara ilmiah. Dalam psikologi
pendidikan kita dituntut untuk bisa memahami dan memperlakukan seseorang dengan
baik.
Dalam
psikologi pendidikan kita juga harus bisa memahami tentang bagaimana
pertumbuhan fisik anak (khususnya di usia sekolah dasar) dan bagaimana pengaruh
pertumbuhan fisik anak terhadap perkembangan psikologinya. Untuk itulah didalam
makalah ini kami akan menjelaskan tentang bagaimana dampak pertumbuhan fisik
terhadap perkembangan psikologi anak usia sekolah dasar .
1.2
Rumusan Masalah
1.2.1
Bagaimanakah
Pertumbuhan Anak Sekolah Dasar?
1.2.2
Bagaimanakah
Dampak Pertumbuhan Fisik Terhadap Perkembangan Psikologi Anak Sekolah Dasar?
1.2.3
Bagaimanakah
Tahap-tahap Perkembangan Kognitif Anak Usia Sekolah Dasar?
1.3
Tujuan
1.3.1
Untuk Mengetahui
Pertumbuhan Anak Sekolah Dasar
1.3.2
Untuk mengetahui
Dampak Pertumbuhan Fisik Terhadap Perkembangan Psikologi Anak Sekolah Dasar
1.3.3
Untuk Mengetahui
Tahap-tahap Perkembangan Kognitif Anak Usia Sekolah Dasar
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Pertumbuhan Fisik Anak Sekolah Dasar
Pertumbuhan
fisik adalah perumbuhan struktur tubuh manusia yang terjadi sejak masih dalam
kandungan hingga ia dewasa. Proses perubahannya adalah menjadi panjang
(pertumbuhan vertikal) dan menjadi tebal atau lebar (pertumbuhan horizontal)
dalam suatu proporsi bentuk tubuh. Pertumbuhan berarti pula sebagai proses transmisi dari
konstitusi fisik (resam tubuh, keadaan jasmaniah) yang herediter / turun
menurun dalam bentuk prosesaktif secara berkesinambungan.
Istilah pertumbuhan diartikan sebagai “perubahan–perubahan
yang bersifat kuantitatif yang menyangkut aspek fisik jasmaniah,” seperti
perubahan-perubahan yang terjadi pada organ-organ dan struktur organ fisik
sehingga anak semakin bertambah umurnya semakin besar dan semakin tinggi
badannya. Jadi pertumbuhan adalah suatu proses pertambahan ukuran, volume, serta
jumlah sel yang ditandai dengan pertambahan panjang, berat, dan tinggi makhluk
hidup yang bersifat irreversibel (tidak dapat kembali ke bentuk semula) dan
kuantitatif (dapat diukur). Pertumbuhan sering disebut juga sebagai proses
perubahan dan proses pematangan fisik. Dalam pertumbuhan, macam-macam bagian
tubuh itu mempunyai perbedaan tempo kecepatan. Misalnya saja, pertumbuhan
alat-alat kelamin berlangsung lambat pada kanak-kanak tapi mengalami percepatan
pada masa pubertas. Sebaliknya pertumbuhan susunan syaraf pusat berlangsung
paling cepat pada masa kanak-kanak, kemudian menjadi lambat pada akhir masa
kanak-kanak dan berhenti pada masa pubertas. Contoh pertumbuhan adalah
bertambah tinggi, bertambah berat badan dan tumbuhnya kelenjar-kelenjar sex.
Hasil Pertumbuhan dapat berwujud:
1) Badan bertambah besar;
2) Tubuh bertambah berat;
3) Tulang–tulang lebih besar, panjang, berat, dan
kuat;
4) Perubahan system persyarafan;
5) Perubahan pada struktur jasmaniah lainnya.
Pertumbuhan jasmaniah ini dapat diteliti dengan
mengukur:
1) Berat
2) Panjang dan
3) Ukuran lingkaran, misal : kepala, dada, pinggul, lengan, dan lain
sebagainya.
Ciri-ciri Pertumbuhan Secara Umum
a. Dalam
pertumbuhan akan terjadi perubahan ukuran dalam hal bertambahnya ukuran fisik,
seperti berat badan, tinggi badan, lingkar kepala, lingkar lengan, lingkar
dada, dan lain- lain.
b. Dalam
pertumbuhan dapat terjadi perubahan proporsi yang dapat terlihat pada proporsi
fisik atau organ manusia yang muncul mulai dari masa konsepsi hingga dewasa.
c. Pada
pertumbuhan dan perkembangan terjadi hilangnya ciri-ciri lama yang ada selama
masa pertumbuhan, seperti hilangnya kelenjar timus, lepasnya gigi susu, atau
hilangnya refleks-refleks tertentu.
d. Dalam
pertumbuhan terdapat ciri baru yang secara perlahan mengikuti proses
kematangan, seperti adanya rambut pada daerah aksila, pubis, atau dada.
Karakteristik
Anak Didik Sekolah Dasar Menurut Nasution (1993 : 44) masa usia sekolah dasar
sebagai masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam tahun hingga
sebelas atau duabelas tahun. Usia ini ditandai dengan mulainya anak masuk
sekolah dasar dan dimulainya sejarah baru dalam kehidupannya yang kelak akan mengubah
sikap dan tingkah lakunya. Masa usia sekolah dianggap oleh Suryobroto (1990 :
119) sebagai masa intelektual atau masa keserasian bersekolah. Tetapi dia tidak
berani mengatakan pada umur berapa tepatnya anak matang untuk masuk sekolah
dasar. Pada masa keserasian bersekolah ini secara relatif anak-anak lebih mudah
dididik daripada masa sebelum dan sesudahnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fisik
1.
Pengaruh
keluarga
Pengaruh keluarga meliputi faktor
keturunan maupun faktor lingkungan. Karena faktor keturunan dan lingkungan.
2.
Faktor
keturunan/ genetika/hereditas
Totalitas karakteristik individu
yang diwariskan orang tua kepada anak, atau segala potensi (baik fisik maupun
psikis).
3.
Faktor
lingkungan
Keseluruhan fenomena (peristiwa,
situasi atau kondisi) fisik/alam atau sosial yang mempengaruhi atau dipengaruhi
perkembangan individu.
- Lingkungan keluarga
- Lingkungan sekolah
4.
Pengaruh
gizi
Anak- anak memperoleh gizi cukup
biasanya akan lebih tinggi tumbuhnya dan sedikit lebih cepat mencapai taraf
remaja dibandingkan dengan mereka yang kurang memperoleh gizi. Lingkungan dapat
memberikan pengaruh pada remaja sedemikian rupa sehingga menghambat atau
mempercepat potensi untuk pertumbuhan di masa remaja.
5.
Gangguan
emosional
Anak yang terlalu sering mengalami
gangguan emosional akan menyebabkan terbentuknya steroid adrenal yang
berlebihan, dan ini akan membawa akibat berkurangnya pembentukan hormon
pertumbuhan di kelenjar pituitari.
6.
Jenis
kelamin
Anak laki-laki cenderung lebih
tinggi dan lebih tinggi dan lebih berat daripada anak perempuan. Kecuali pada
usia antara 12 dan 15 tahun. Anak perempuan biasanya akan sedikit lebih tinggi
dan lebih berat daripada anak laki-laki. Terjadinya perbedaan berat dan tinggi
tubuh ini karena bentuk tulang dan otot pada anak laki-laki memang berbedadari
anak perempuan.
7.
Status
sosial ekonomi
Anak-anak yang berasal dari keluarga
dengan status sosial ekonomi rendah, cenderung lebih kecil daripada anak yang
berasal dari keluarga yang status sosial-ekonominya tinggi.
8.
Kesehatan
Anak-anak yang sehat dan jarang
sakit, biasanya akan memiliki tubuh yang lebih berat daripada anak yang sering
sakit.
9.
Pengaruh
bentuk tubuh
Bangun/bentuk tubuh, apakah
mesamorf, ektomorf, atau endomorf, akan mempengaruhi besar kecilnya tubuh anak.
2.2 Dampak Pertumbuhan Fisik
Terhadap Perkembangan Psikologi Anak Sekolah Dasar
Pertumbuhan fisik memang sangat
berpengaruh terhadap perkembangan psikologi anak Sekolah Dasar. Menurut
(Hurlock; 1992) ada beberapa pengaruh pertumbuhan fisik terhadap psikologis
anak Sekolah Dasar antara lain :
a)
Ingin menyendiri
Terjadinya masa puber atau pertumbuhan fisik anak
usia Sekolah Dasar akan menyebabkan anak itu menarik diri dari teman-temannya
dan berbagai aktivitas keluarga, sering bertengkar dengan teman-teman dan
anggota keluarganya.
b)
Memiliki rasa
bosan
Berbagai permainan yang dulu disenangi akan mulai
ditinggalkan karena telah merasa bosan dan juga mereka akan merasa malas
terhadap tugas-tugas sekolah yang diberikan.
c)
Emosi yang
meninggi
Anak yang mulai tumbuh dewasa akan cepat murung,
khawatir, cemas, marah dan menangis hanya karena hasutan yang sangat kecil,
kondisi ini akan cenderung membaik saat mereka mulai terbiasa terhadap kejadian
yang mereka alami.
d)
Hilangnya
kepercayaan diri.
Seseorang yang mulai tumbuh pasti akan memiliki rasa
kehilangan percaya diri saat mereka mulai tumbuh dewasa.
e)
Ingin melakukan
sesuatu hal yang baru
Dengan mulai tumbuhnya fisik anak di usia sekolah
dasar maka akan mulai ada rasa ingin tau yang mulai mereka rasakan. Dan merekan
akan cenderung ingin melakukan hal yang baru yang belum mereka ketahui
sebelumnya.
f)
Rasa ingin
meniru orang yang lebih dewasa
Pertumbuhan fisik anak di usia sekolah dasar juga
akan berpengaruh kepada tingkah lakunya. Karena dengan bertumbuhnya fisik anak
akan cenderung ingin melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh orang dewasa.
g)
Ingin melakukan
pekerjaan yang lebih
Dengan bertumbuhnya fisik anak usia sekolah dasar
maka akan cenderung mendorong mereka untuk melakukan sesuatu aktivitas atau
pekerjaan yang lebih berat atau yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya.
h)
Memiliki cara
berpikir yang lebih dewasa
Dengan bertumbuhnya fisik anak di Usia Sekolah Dasar
maka akan mendorong mereka untuk bisa berpikir lebih dewasa dari sebelumnya,
hal ini disebabkan oleh sel otak mereka akan lebih berkembang dari sebelumnya.
2.3 Tahap-tahap Perkembangan Kognitif
Berikut ini merupakan beberapa
tahap-tahap dari perkembangan Kognitif
2.3.1 Masa Sensori Motor (0-2 tahun)
Masa ketika bayi mempergunakan sistem
pengindraan dan aktivitas motorik untuk mengenal lingkungannya. Bayi memberikan
reaksi motorik atas rangsangan-rangsangan yang diterimanya dalam bentuk refleks
misalnya refleks menangis, dan lain-lain, Refleks ini kemudian berkembang lagi
menjadi gerakan-gerakan yang lebih canggih, misalnya berjalan (Sunarto,
2008:24)
Piaget
membagi tahap sensori motor dalam enam periode:
· Refleks (umur 0-1 bulan). Tingkah laku bayi kebanyakan
bersifat refleks, spontan tidak sengaja, dan tidak terbedakan.Contoh: refleks
menangis, mengisap, menggerakkan tangan dan kepala, mengisap benda didekatnya,
dan lain-lain.
·
Kebiasaan
(umur 1-4 bulan). Kebiasaan
dibuat dengan dengan mencoba-coba dan mengulang-ulang suatu
tindakan. Contoh: seorang bayi mengembangkan kebiasaan mengisap jari.
Awalnya ia tidak dapat mengangkat tangannya ke mulut, lalu pelan-pelan mencoba
dan akhirnya bisa. Setelah itu menjadi lebih cepat melkukan kembali. Maka itu,
terjadilah suatu kebiasaan mengisap ibu jari.
·
reproduksi
kejadian yang menarik (4-8 bulan). Pada periode ini, seorang bayi mulai menjamah dan
memanipulasi objek apapun yang ada di sekitarnya. Misal, diatas
ranjang,seorang bayi diletakkan mainan yang akan berbunyi jika talinya
dipegang. Suatu saat ia main-main dan menarik tali itu. Ia mendengar bunyi yang
bagus dan ia senang. Maka, ia akan menarik tali itu agar muncul bunyi yang
sama.
·
koordinasi
skemata (8-12 bulan). Seorang
bayi mulai membedakan antara sarana dan hasil tindakannya. Contoh: seorang
bayi diberi mainan tetapi letakknya jauh. Di dekatnya terdapat tongkat kecil
dan dia akan menggunakannya untuk menggapai mainan tersebut.
·
eksperimen
(12-18 bulan). Mulainya
anak memperkembangkan cara-cara baru untuk mencapai tujuan dengan
eksperimen. Contoh: anak diberi makanan yang diletakkan di meja. Ia akan
mencoba menjatuhkan makanan itu dan memakannya.
·
representasi
(18-24 bulan). Seorang
anak sudah mulai menemukan cara-cara baru yang tidak hanya berdasarkan rabaan
fisis dan eksternal tetapi juga dengan koordinasi internal dalam
gambarannya. Misal: Lauren mencoba membuka pintu kebun. Ia tidak berhasil
karena pintu disangga oleh sebuah kursi diseberangknya. Ia pergi di sisi lain
dan memindahkan kursi yang menghambat tersebut, padahal ia tidak melihat. Dari
kejadian tersebut, tampak jelas bahwa lauren dapat mengerti apabila penyebab
pintu itu adalah sesuatu yang berada dibelakangpintu tersebut, meskipun ia
tidak melihat.
2.3.2 Masa
Pra-Operasional (2-7 tahun)
Ciri khas masa ini adalah kemampuan anak menggunakan simbol
yang mewakili suatu konsep. Misal, seseorang anak yang pernah melihat dokter
berpraktek, akan dapat bermain “dokter-dokteran” (Sunarto, 2008:24).
Piaget
membagi perkembangan kognitif tahap praoperasional dalam dua bagian:
- Umur 2-4 tahun, dicirikan oleh perkembangan pemikiran logis
Piaget membedakan antara “simbol” dan “tanda” dengan
“indeks” dan sinyal.dalam pengertian simbol dan tanda (sign) dibedakan antara
objek yang ditandakan dengan tandanya sendiri misalnya anak bermain pasar
pasaran dengan uang dari daun.”daun”di sini sebagai tanda ,sedangkan
“uang”adalah yang di tanda kan.dalam kenyataan daun dan uang tidak sama.dalam
pengertian”indeks” dan “sinyal” tidak di bedakan antara tanda dan objek yang di
tandakan.
Piaget juga membedakan antara “simbol” dan “tanda”.
Simbol adalah suatu hal yang lebih menyamai dengan yang di simbolkan seperti
gambaran dan bayangan . tanda lebih merupakan sembarang benda yang di guna kan
tanpa ada kesamaan dengan yang di tanda kan
- Umur 4-7 tahun, dicirikan oleh perkembangan pemikiran intuitif
Menurut piaget (1981) pemikiran anak pada umur 4 -7 tahun
berkembang pesat secara bertahap ke arah konsep tualisasi. Ia berkembang dari
tahap simbolis dan prakonseptual ke permulaan oprasional . tetapi perkembangan
itu belum penuh karena anak masih mengalami oprasi yang tidak lengkap dengan
suatu bentuk pemikiran yang semi simbolis atau penalaran intuitif yang
tidak logis. Dalam hal ini seseorang anak masih mengambil keputusan hanya
dengan aturan-aturan intuitif yang masih mirif dengan tahap sensorimotor
Pemikiran intuitif adalah persepsi langsung akan dunia luar
tetapi tanpa di nalar terlebih dahulu . kelemahan pemikiran ini adalah bahwa
pemikiran nya searah (centred) dimana anak hanya dapat melihat dari satu
segi saja.dalam pemikiran ini anak belum dapat melihat pluralitas gagasan
tetapi hanya satu persatu. apabila beberapa gagasan di gabungkan pemikiran anak
menjadi kacau . anak pada tahap ini belum dapat berpikir decentred yaitu
melihat berbagai segi dalam setu kesatuan
2.3.3 Tahap operasional Konkret (7-11
tahun)
Tahap ini dicirikan dengan perkembangan sistem pemikiran
yang didasarkan pada aturan-aturan tertentu yang logis. Tahap operasi konkret
tetap ditandai dengan asanya sistem operasi berdasarkan apa-apa yang kelihatan
nyata/konkret. Anak masih menerapkan logika berpikir pada barang-barang yang
konkret, belum bersifat abstrak apalagi hipotesis.
2.3.4 Tahap Operasional Formal
Tahap terakhir dalam perkembangan kognitif menurut Piaget.
Pada tahap ini mereka sudah dapat berpikir logis, berpikir dengan pemikiran
teoretis formal berdasarkan proposisi-proposisi dan hipotesis, dan dapat
mengambil kesimpulan lepas dari apa yang diamati saat itu.
Anak usia sekolah dasar berada pada
tahapan operasi konkret. Pada rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan
perilaku belajar sebagai berikut:
(1) Mulai memandang dunia secara objektif,
bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang
unsur-unsur secara serentak,
(2) Mulai berpikir secara operasional,
(3) Mempergunakan cara berpikir operasional
untuk mengklasifikasikan benda-benda,
(4) Membentuk dan mempergunakan
keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan
hubungan sebab akibat, dan
(5) Memahami konsep substansi, volume zat
cair, panjang, lebar, luas, dan berat.
Memperhatikan tahapan perkembangan
berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga
ciri, yaitu:
1.
Konkrit
Konkrit mengandung makna proses belajar
beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui,
diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan
sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan
hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan
peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih
nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat
dipertanggungjawabkan.
2.
Integratif
Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian.
Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian.
3.
Hierarkis
Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi .
Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi .
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Pertumbuhan fisik adalah perumbuhan
struktur tubuh manusia yang terjadi sejak masih dalam kandungan hingga ia
dewasa. pertumbuhan merupakan suatu proses
pertambahan ukuran, volume, serta jumlah sel yang ditandai dengan pertambahan
panjang, berat, dan tinggi makhluk hidup yang bersifat irreversibel (tidak
dapat kembali ke bentuk semula) dan kuantitatif (dapat diukur). Hasil
Pertumbuhan dapat berwujud: Badan bertambah besar, Tubuh bertambah berat, Tulang–tulang
lebih besar, panjang, berat, dan kuat, Perubahan system persyarafan, Perubahan
pada struktur jasmaniah lainnya. Pertumbuhan jasmaniah ini dapat diteliti dengan
mengukur: Berat, Panjang dan Ukuran lingkaran.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan fisik :
Pengaruh keluarga, Faktor keturunan/
genetika/hereditas, Faktor lingkungan, Pengaruh gizi, Gangguan emosional, Jenis
kelamin, Status sosial ekonomi,
Kesehatan dan Pengaruh bentuk tubuh
Pertumbuhan
fisik memang sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologi anak Sekolah
Dasar. Menurut (Hurlock; 1992) ada beberapa pengaruh pertumbuhan fisik terhadap
psikologis anak Sekolah Dasar antara lain : ingin menyendiri, memiliki
rasa bosan, emosi yang
meninggi, hilangnya
kepercaraan diri, ingin melakukan
hal-hal yang baru dan ingin meniru orang yang lebih dewasa, ingin melakukan
pekerjaan lebih dan mampu berpikir lebih dewasa.
Perkembangan kognitif memiliki beberapa tahap yaitu Masa Sensori Motor (0-2 tahun) yaitu masa perkenalan bayi terhadap lingkungannya, Masa Pra-Operasional (2-7 tahun), Tahap operasional Konkret (7-11 tahun) dan tahap operasional
formal.
3.2 Saran
Dalam upaya mendidik dan mengembangkan anak untuk mencapai
perkembangannya seoptimal mungkin, maka para pendidik anak usia sekolah dasar
perlu memahami siapa anak didiknya dan bagaimana perkembangan anak itu sendiri.
Anak berbeda dengan orang dewasa atau orang tua, anak memiliki karakteristik
dan dunianya sendiri, dan anak memiliki potensi untuk dapat berkembang selama
lingkungannya memberikan pengaruh-pengaruh yang positif bagi upaya
pengembangannya.